Selasa, 30 September 2014

Kumpulan Puisi Yoga Adiaa

Assalamu'alaikum wr wb. 

Kali ini aku posting beberapa puisi-puisi karya pribadiku. Yah semoga saja tidak membuat kalian kecewa. :) 
Aku hanya berharap, semoga kalian dapat terhibur, dapat menjadikan pemuas perasaan kalian, juga dapat memotivasi tentunya. :) 

Hmm.. Tidak usah panjang lebar. Semoga kalian menikmati sajian sajak-sajak dari saya. 
Resapan perasaan dan senyum kalian ketika membaca puisi saya adalah hadiah bagi saya. ;)

 

Aku Memujimu

Kini aku menyebut waktu sebagai rasi bintang di angkasa yang tak henti-hentinya berkedip.
Tak ada yang mengira bahwa waktu belum berhenti jika bintang-bintang masih berpijaran.
Seperti kamu, dirimu yang tak henti-hentinya menyinari hidupku adalah setumpukan permata yang amat membahagiakan.
Terkadang aku dibuat merinding oleh tingkah jeniusmu ketika lekuk demi lekuk menari dengan lincahnya. 
Aku senang melihat pertunjukanmu yang selalu terasa hebat.
Demikian aku memuji setiap hal yang kau lakukan.
Aku curiga kau menghipnotis aku dalam dunia yang terlihat berbeda setelah kehadiranmu,
Sebab serasa bumi bagai gumpalan bangkai ketika kau pergi.
O2 pun seakan menjelma menjadi bau amis, dan lantang nada berubah menjadi jeritan yang tak henti-hentinya memecah harmoni. 

 

Pelangi Yang Sesungguhnya

Kali ini, ku lihat dunia yang bagai surga.
Ya.., indah sore itu semacam menjelma menjadi nirvana.
Romantisme sore itu sungguh cantik,
Demikian seperti senja yang muncul sesaat sebelum hari melesat padam.

Aku suka caramu menyinariku,
Sebab setelah bersamamu hudup jadi selalu terasa hangat.
Mungkinkah kau itu kasur dalam kamarku?
Oleh karena kau selalu empuk dan buatku selalu terasa nyaman.
Begitu juga lengkap dengan selimutmu yang bagai cintamu
Menghangatkan aku ketika aku mulai menggigil kedinginan.

Inilah kamu yang selalu saja menggemaskan,
Selalu saja penuh akan warna.
Yang parasmu secantik pelangi berhias permata.
Yang senantiasa sempurna dalam hatiku.

Namun ketahuilah!
Aku mencintaimu bukan karena aku butuh kepuasan,
Atau karena kamu memaksaku untuk menggenggam hatimu.
Aku cinta kamu karena hatiku yang bagai kompas terus saja menunjuk ke arah mu,
Seakan-akan tak ada lagi magnet yang lebih kuat, yang mampu merekat dengan hatiku kecuali kamu.
Kau lah medan magnet yang selalu memberi kuat hidupku dengan cintamu,
Atau bahkan kau mampu mengalahkan kuatnya medan magnet kutub utara yang itu benar-banar kuat.

Ketahuilah, kata "I Love You" bukanlah kata yang murah,
Walau kata itu terkesan sederhana,
Namun sulit untuk menganga  berucap selain kepadamu.

Oleh karna kau adalah kesetiaan dan kehormatanku,
Jadi, kau lah yang paling istimewa di hidupku.
Hidup bersamamu adalah anugerah terindah, yang pernah Tuhan berikan untukku.
Juga tentang dunia yang luas ini yang serasa milik kita berdua,
Dan hidup ini yang laksana hidup dalam istana cinta yang terasa kekal.

Bersumpahlah sayang!
Bahwa kau akan mampu terima aku apa adanya,
Sebab, aku akan menjadikan kekuranganku sebagai kelebihanku,
Dan cintamu yang hadir menutup kekuranganku dengan kelebihanmu.

Serta demikian pula aku berharap,
Kau tak akan pernah menghempasku hilang dari daya ingatmu,
Sebab, cerah sinar yang ku genggam setiap saat, mungkin akan hilang juga karena hempasmu.

Aku meminta ampun kepada Tuhan,
Sebab, selalu penuh dengan namamu di setiap doaku yang terpanjat setiap harinya,
Yang mungkin melantun terlalu sering setiap harapan untuk derap langkah mu.

Sayang..., kamulah hidupku.
Kelak, ketika dewasa kita telah tiba,
Aku ingin menitih hidup bersamamu menuju pelaminan.
Kita menikah, dan tak akan ada lagi yang memisahkan kita kecuali maut yang kejam.
Hidup kita akan berhias keindahan setiap harinya.
Juga dengan buah hati kita yang senantiasa akan kita jaga dengan penuh kelembutan.
Kita beri dia cinta, agar hari-harinya dipenuhi tawa.

Kelak, rumah kita akan menjadi salah satu tempat bernaung yang penuh warna,
Yang setiap harinya dihiasi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Yang setiap harinya terdengar sajak-sajak penuh kasih sayang dalam kedamaian.
Yang setiap harinya pula ada kau dan buah hati kita yang menjadi makmumku,
Yang senantiasa mengamini doaku ketika keluarga kecil kita membangun tiang agama.

Sampai pada akhirnya kita tua dan akan kembali kepada-Nya.
Namun ketahuilah!
Cinta kita akan tetap tumbuh,
Bahkan akan menjelma menjadi lebih kuat lagi.
Demikian hidup kita pun akan berlangsung indah di Surga-Nya.

Itulah harapan kita,
Itulah mimpi suci kita,
Itulah pelangi kita yang sesungguhnya, yang tak akan pernah hilang diterpa angin kencang.

Percayalah sayang.
Kita akan tetap menjadi kita untuk selamanya.
Dan untuk selamanya! 



Puisi Untuk mu

Dalam senja yang mulai pucat tanda menjelang malam,
Ku guratkan coretan-coretan manis dengan sisa tinta yang mulai habis,
Merangkainya kata demi kata dalam setiap nafasku yang berhembus,
Sajak demi sajak bagai melodi-melodi dawai surgawi.

Seakan-akan kertas lusuh dan tinta itu adalah saksi bisu setiap rasaku,
Satu-satunya yang faham akan kalbuku setelah Tuhan,
Menjelma menjadi sebuah kenangan yang hampir usai di pelataran,
Seakan bagai angin menghembus terlalu cepat dan pergi sebelum akhir.

Itulah kamu, 
Kamu yang kini tampak berbeda setelah kepulangan senja,
Sejenak menari dalam hatiku dan cepat saja berlalu,
Menyisakan rasa pahit setelah manis.

Mungkin cukup sampai disini kisah sejarah itu,
Cukup berakhir dan tamat sampai disini,
Namun sebelum rasaku padamu hilang dalam petang,
Ijinkan aku untuk menggapai bayang-bayangmu yang dulu menjadi inspirasiku,
Ijinkan aku untuk tetap bernafas walau tanpa kamu lagi di sisi ku.

Dalam setiap jalanmu,
Terselip doaku yang selalu hadir menyertaimu,
Aku berharap kepada Tuhan,
Semoga kamu mendapat yang terbaik dalam hidupmu,
Dan aku dapat melihat cahaya lagi yang hadir menemaniku saat hadirnya esok. 
 
Binar Bintang Penghias Cerita

Terngiangku kala butiran memory melintas hangat dalam otakku
Semacam mengalir deras menggelitiki ingatan masa laluku
Kala kecil memang mengasyikkan
Kala kecil adalah meriangkan
Aku candu kebersamaan terselimuti kepolosan dan rasa ketidak tahuan yang konyol
Kenangan bersamamu adalah rentetan sejarah yang tak terlerai
Kenangan bersamamu adalah berbaris-baris kata yang tak pernah tertitik

Sobatku yang manis..
Di manakah kini kakimu menapak?
Ketahuilah tentang sebenar-benarnya kejujuran paling dasar yang mengakar dalam jaringan sukmaku
Bahwasanya rinduku menggebu menendang-nendang dengan kerasnya ingin menjumpaimu
Bahwasanya telingaku terasa gatal tak kau koroki oleh kocehan dari bunyi pita suaramu yang riuh.

Tolong jangan kau tanyakan akankah aku meginginkan keberadaanmu!
Sebab durasi satu detik bersamamu dalam mimpi saja adalah harmoni mahal yang teramat membahagiakanku
Aku berharap agar Tuhan mau mempersinggungkan kita kembali walau ketika senja
Demikian kaulah binar bintang penghias cerita dikala usia benih hidupku. 



Menghamba Pada Sebuah Kenangan

Kini tersisa puing-puing memory tentangmu yang cacat
Seperti kumpulan pazel-pazel yang berserakan di dasar  ingatanku
Bukankah ini hebat ketika kamu adalah satu-satunya ingatan yang tiba sebelum aku terpejam pulas?
Bahkan tertuang pula ketika aku terlelap sebagai mimpi penghias tidurku
Kamu bagai cahaya yang hadir menerangi arsy jiwaku yang bernuansa gulita
Menghadirkan sebuah rasa teramat luar biasa atas nama sajak-sajak cinta

Haahh…! Namun itu adalah dulu!
Kini kau bagai cakar-cakar singa yang mencabik-cabik relung hatiku
Sosokmu laksana runcing pedang yang elok menusuk batinku
Mungkin aku bodoh, gila, idiot, ataukah memang aku tak punya otak!
Sebab masih saja mencintaimu di setiap detiknya waktu yang berderap dan terus berputar
Bahkan hadirmu masih menjadi tokoh utama yang berpetualang mengelilingi pikiranku setiap waktu tanpa hentinya
Apakah memang tiada muara untuk aku dapat melupakanmu?
Apakah ingatan tentangmu yang menyayat itu harus terus tumbuh mengakar dalam otakku?
Aku bimbang, ini laksana aku diperbudak perasaanku sendiri !
Aku seperti menghamba pada sebuah kenangan bersesaji derita yang itu benar-benar bengis adanya.




Tulang Rusuk Yang Pulang
Desing peluru kalbu sekejap mulai melesat
Ia melaju sekencang suara berpacu cahaya
Tajam menerobos keraguan
Perkasa menepis kepecundangan
Liuknya melambung tinggi di pucuk katulistiwa
Perlahan terpelanting, dan kemudian jatuh mendarat dalam jasadmu

Ia semacam hidup dalam ragamu
Rohmu berkombinasi dengan kepingan-kepingan jiwaku
Di nadimu terlantun denting suara degup jantungku
Arterimu mengalir zat-zat darahku
Demikian indramu terbalut hangat bayang wajahku

Kala itu, aku hidup bersama nyawamu
Mengakarkan jaringan hatiku persis pada hatimu
Tuhan pun senantiasa bertepuk tangan melihat hati kita bergandengan
Kemudian takdir dengan tegasnya bersabda
Bahwa kaulah tulang rusukku yang kini telah pulang. 




Guru Tertol!

Aroma indahnya cinta berbalut dengan lembut sukma yang menyala-nyala
Merangkai sebuah kisah kasih semacam diagonal dua insan manusia
Serupa sepasang sepatu yang lumpuh ketika terpisah
Begitu pun aku dan kau yang mencoba bergandengan dalam sajak cinta

Kasih untukmu kan senantiasa melekat dalam jiwaku
Sayang untukmu kan senantiasa tumbuh, terus menggebu di relung hatiku
Tanpa sebuah kata kepalsuan
Tanpa sebuah kiasan
Tanpa sebuah kalimat “Aku membohongimu”

Namun kau bukanlah kau yang ku kenal awal pertemuan sebagai setitik kulau cahaya
Sekejap kau berubah menjadi gulita yang menikamku hingga aku sesak
Sosok keras yang entah dari mana keluar dari ragamu yang kini pekat teramat sangatnya
Bermetamorfosa bagai sesosok setan yang kejam bermulut tajam
Kau cekik aku yang mulai sekarat tak berdaya
Kau bawa senjata bernafas rasa khianat berjarum laknat
Perlahan kau tusuk semua rasa cinta, semua rasa percaya hingga kini berdarah
Apa yang kau inginkan?
Bukankah kau yang mengajarkanku dulu makna tentang sebuah cinta?
Lupakah kau yang setiap saat merengek ketakutan, memintaku memelukmu
Kau minta aku mengecup keningmu setiap pagi agar kau merasa aman
Kurasa kau guru yang teramat payah!
Kau pengajar yang menelan habis-habisan tuturmu sendiri!
Kau guru terbodoh, tertolol yang pernah mengajarkan hal paling membahagiakan
Kau penghianat terlaknat!
Bangsat…!!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar